Minggu, 19 April 2015

Cintaku akan kubawa mati ayah.


Tiga hari lalu dia ketemu teman karibnya Litri, menuntun dua anaknya yang cantik n mungil. ++ Ini loh hasilnya aku sama mas Bram.
--Oh Litri.....berarti kamu dah ninggalin si Suman
++Iyaa kali ga jodoh. Mas Bram pilihan ibu aku. Ia kerja di perusahaan asing....gimana kabar pacarmu.......
Sejak itu ia gak bisa tidur. Apalgi di kamar sebelah selalu terdengar ayah batuk beruntun gak brenti2. Sejak ditinggal ibu 2 taun lalu ayah sering sakit. Kerja serabutannya sering tertunda. Terbayang Litri yang happy. Dia bandingkan mas Bram dan Joni pacarnya yang rajin dagang keliling.....
Matanya merem melek. Biasanya dia langsung lelap dilanda kantuk. Tapi kantuk gak datang2 juga. Bosan terlentang. Duduk lagi. Berbaring, bangun lagi....Terus........
Dibenaknya mulai terbersit benih bosan hidup serba kekurangan. Kok jadi begini. Biasanya aku biasa2 aja hidup apa adanya......
Hatinyapun mulai diayun bimbang.....

Dalam bimbang si gadis tidak bisa menggenggam utuh wajah pacarnya. Mimpikan Joni tercinta jadi hilang timbul. Sekali terbersit rupa lelaki idola ayahnya. Sosok Joni yang suram dan sosok lelaki manusia masa depan silih berganti. Antara dirinya yang lagi dirundung cinta dan ayahnya yang penuh harap.
Hiks....kok kok begini......sedih, susah, tak berguna, gagal, putus asa, tiada harapan, penyesalan berbaur jadi bubur...
Meri jadi pendiam, pesimis, pelupa, tanpa gairah....
Aku benci ayah.....tapi aku sayNg n hormat ayah. Sikap ambivalen ini akirnya membuat Meri memusuhi dirinya sendiri.....menyalahkan diri sendiri...
Oh Tuhan... tolong aku. Jangan sampai aku bunuh diri......
(Orang yang berlama2 mengalami bimbang, tidak mampu mengambik keptusan, akirnya bisa menjafi penderita nerosa depresif



Dua bulan terakir ini, sudah tiga kali Meri ketemuan dengan Joni. Dalam setiap pelukannya, Joni selalu membisiki....jangan berpaling sayang....aku janji usaha lebih keras lagi, gak peduli pagi siang ato malam. Biar ada bekal untuk pernikahan kita.....Meri kini semakin yakin atas pilihannya jatuh pada Joni, ga perduli ayah protes apa. Meski demikian Meri tetap menyayangi dan melayani ayah yang semakin renta.
Sampai suatu hari, kala malam baru mulai, ditengah-tengah suara rintik hujan, Meri mendengar suara batuk ayah semakin keras, dan tiba2....gedebuk!.... Suara apa itu. Dia loncat dan lari menuju kamar sebelah. Ayaaah.....tubuh renta itu tertelungkup di lantai. Dengan sekuat tenaga Meri membopong ke tempat tidur. Ayah aku akan panggil dokter yaa. Jangan Meri....kamu dampingi aja ayah disini...
Atas budi baik tetangganya Meri meminjam sepeda motor tua, untuk pergi ke rumah seorang dokter sekitar 3 km di desa seberang. Rasa paniknya membuat dia tancap gas. Rintik hujan dan lampu motor yang remang membuat jarak pandangnya memendek. Ketika dia akan melewati sebuah tikungan yang cukup curam, tiba2 saja remnya gak bisa main. Tau2 di depannya tampak sebuah bayangan orang. Gedubrakkk....Meri terlempar bersama orang yang ditabrak melewati pembatas jalan.....
Lama Meri gak sadarkan diri. Saat dia membuka matanya, dia heran aku ada dimana. Ruangan sejuk dengn cahaya lampu yang teduh. Disampinya berdiri Joni tersenyum, memegang tangan erat Meri. Meri bangkit memeluk Joni, mau tanya... Tapi Joni menaruh telunjuknya di depan bibirnya. Selagi ada dalam dekapan Joni, tiba2 pintu terbuka. Ayah ! Dibelakangnya ikut seorang suster yang selalu senyum. Ayah juga senyum, memeluk Joni, lalu memeluk Meri. Ketiganya berpelukan. Meri merasa bahagia luar biasa. Ayah udah setuju. Semua beban di hati kini sirna. Menjadi sangat enteng. Mereka beriringan keluar kamar. Kini Meri merasakan tubuhnya menjadi ringan seperti balon penuh udara....
Pagi2 subuh warga digegerkan oleh temuan adanya dua sosok mayat di dasar tebing. Meri dan Joni. Sementara di rumah Meri seorang lelaki renta terbujur kaku.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar