Selasa, 01 November 2016

Telaga warna




Zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat bernama Kutatanggeuhan. Kutatanggeuhan merupakan kerajaan yang makmur dan damai. Rakyatnya hidup tenang dan sejahtera karena dipimpin oleh raja yang bijaksana. Raja Kutatanggeuhan bernama Prabu Suwartalaya dan permaisurinya bernama Ratu Purbamanah. Raja dan ratu sangant bijaksana sehingga kerjaan yang dipimpin makmur dan tenteram.
Semua sangat menyenangkan. Sayangnya, Prabu dan istrinya belum memiliki anak. Itu membuat pasangan kerajaan itu sangat sedih. Penasehat Prabu menyarankan, agar mereka mengangkat anak. Namun Prabu dan Ratu tidak setuju. “Buat kami, anak kandung adalah lebih baik dari pada anak angkat,” sahut mereka.
Ratu sering murung dan menangis. Prabu pun ikut sedih melihat istrinya. Lalu Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus berdoa, agar dikaruniai anak. Beberapa bulan kemudian, keinginan mereka terkabul. Ratu pun mulai hamil. Seluruh rakyat di kerajaan itu senang sekali. Mereka membanjiri istana dengan hadiah.
Sembilan bulan kemudian, Ratu melahirkan seorang putri yang diberinama Gilang Rukmini . Penduduk negeri pun kembali mengirimi putri kecil itu aneka hadiah. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang lucu. Belasan tahun kemudian, ia sudah menjadi remaja yang cantik.
Prabu dan Ratu sangat menyayangi putrinya. Mereka memberi putrinya apa pun yang dia inginkan. Namun itu membuatnya menjadi gadis yang manja. Kalau keinginannya tidak terpenuhi, gadis itu akan marah. Ia bahkan sering berkata kasar. Walaupun begitu, orangtua dan rakyat di kerajaan itu mencintainya.
Hari berlalu, Putri pun tumbuh menjadi gadis tercantik di seluruh negeri. Dalam beberapa hari, Putri akan berusia 17 tahun. Maka para penduduk di negeri itu pergi ke istana. Mereka membawa aneka hadiah yang sangat indah. Prabu mengumpulkan hadiah-hadiah yang sangat banyak itu, lalu menyimpannya dalam ruangan istana. Sewaktu-waktu, ia bisa menggunakannya untuk kepentingan rakyat.

Prabu hanya mengambil sedikit emas dan permata. Ia membawanya ke ahli perhiasan. “Tolong, buatkan kalung yang sangat indah untuk putriku,” kata Prabu. “Dengan senang hati, Yang Mulia,” sahut ahli perhiasan. Ia lalu bekerja d sebaik mungkin, dengan sepenuh hati. Ia ingin menciptakan kalung yang paling indah di dunia, karena ia sangat menyayangi Putri.
Hari ulang tahun pun tiba. Penduduk negeri berkumpul di alun-alun istana. Ketika Prabu dan Ratu datang, orang menyambutnya dengan gembira. Sambutan hangat makin terdengar, ketika Putri yang cantik jelita muncul di hadapan semua orang. Semua orang mengagumi kecantikannya.
Prabu lalu bangkit dari kursinya. Kalung yang indah sudah dipegangnya. “Putriku tercinta, hari ini aku berikan kalung ini untukmu. Kalung ini pemberian orang-orang dari penjuru negeri. Mereka sangat mencintaimu. Mereka mempersembahkan hadiah ini, karena mereka gembira melihatmu tumbuh jadi dewasa. Pakailah kalung ini, Nak,” kata Prabu.
Putri menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. “Aku tak mau memakainya. Kalung ini jelek!” seru Putri. Kemudian ia melempar kalung itu. Kalung yang indah pun rusak. Emas dan permatanya tersebar di lantai.

Itu sungguh mengejutkan. Tak seorang pun menyangka, Putri akan berbuat seperti itu. Tak seorang pun bicara. Suasana hening. Tiba-tiba meledaklah tangis Ratu Purbamanah. Dia sangat sedih melihat kelakuan putrinya.Akhirnya semua pun meneteskan air mata, hingga istana pun basah oleh air mata mereka. Mereka terus menangis hingga air mata mereka membanjiri istana, dan tiba-tiba saja dari dalam tanah pun keluar air yang deras, makin lama makin banyak. Hingga akhirnya kerajaan Kutatanggeuhan tenggelam dan terciptalah sebuah danau yang sangat indah.
Di hari yang cerah, kita bisa melihat danau itu penuh warna yang indah dan mengagumkan. Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di sekitar telaga. Namun orang mengatakan,
warna-warna itu berasal dari kalung Putri
yang tersebar di dasar telaga.
http://dongeng.org

Anak Hutan






Cerita ini berasal dari Dompu, salah satu kabupaten di Pulau Sumbawa. Di suatu desa, tinggallah sepasang suami istri yang kaya. Akan tetapi, sudah lama mereka menikah belum dikaruniai anak. Oleh karena itu, mereka sangat sedih.
Pada suatu hari, sang suami berkata kepada istrinya, “Sayang kekayaan kita yang begini banyak, tak ada yang mewarisinya, kalau kita sudah tiada.”
Mendengar kata-kata suaminya, hati sang istri sangat sedih. “Saya pun sudah lama memikirkan hal itu. Hanya saya tidak berani menyampaikan kepada kakak, saya takut kakak tersinggung,” kata istrinya.
Sejak itu, mereka selalu berdoa bersama memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar diberikan seorang anak. Akhirnya, doa itu pun dikabulkan. Sang istri melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama La Golo. Sejak kecil, La Golo selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Akibatnya, La Golo tumbuh menjadi anak yang malas, tahunya hanya makan saja. Semua keinginannya harus dipenuhi. Hampir setiap hari La Golo berkelahi dengan teman-temannya. La Golo pun melawan orang tuanya. Hal yang demikian membuat kedua orang tuanya sedih.
Pada suatu hari, saat suami istri itu sedang memperbincangkan anaknya, sang suami berkata, “Dulu aku menamakan anak kita La Golo, terkandung maksud agar setelah besar dengan bersenjatakan golo (golok), ia dapat membuka lahan baru sehingga kebun kita bertambah banyak. Kenyataannya justru sebaliknya.”
Mendengar hal itu, istrinya juga sedih. Akhirnya, mereka bersepakat untuk membuang anaknya.
Pada suatu hari, dipersiapkanlah bekal yang cukup banyak dengan lauk yang enak-enak. Melihat ibunya memasak, La Golo bertanya kepada ibunya, “Ada acara apa sehingga ibu memasak makanan yang lezat-lezat?” Ibunya menjawab bahwa ayahnya akan pergi ke hutan mencari kayu bakar bersama La Golo. Sepertiga makanan yang telah dimasak boleh dimakan La Golo sebelum berangkat, sedangkan sisanya dipakai sebagai bekal. Hati La Golo sangat senang mendengar jawaban ibunya. Dalam waktu singkat, makanan yang disiapkan untuknya dihabiskannya. Kemudian, dengan membawa parang, ia berangkat bersama ayahnya ke hutan belantara.
Akhirnya, sampailah mereka di tengah hutan. Pepohonan di hutan itu sangat lebat dan besar-besar. Tibalah mereka pada sebuah pohon yang paling besar. Ayahnya berhenti dan berkata kepada La Golo, “Anakku, kita berhenti di sini. Inilah pohon yang kita cari. Inilah kayu “wuwu” yang banyak cabangnya. Kalau kita tebang satu pohon ini, kita akan banyak mendapatkan kayu bakar. Agar tidak rusak, ketika pohon kayu ini akan tumbang, engkau harus menahannya.”
“Ya… Ayah,” jawab La Golo.
Begitulah ketika pohon itu tumbang, La Golo menahannya dengan tubuhnya yang besar. Namun, karena pohon itu terlalu besar, tubuh La Golo hancur tertindih oleh pohon itu.
Setelah beberapa saat, ayahnya menunggu dan tidak ada tanda-tanda lagi La Golo hidup, senanglah hatinya. Sesampainya di rumah, diceritakan kepada istrinya semua peristiwa yang terjadi. Keesokan harinya, disiapkan doa rowa (doa arwah) atas kematian anaknya. Seekor kambing jantan yang besar disembelih karena para tetangga akan diundang.
Begitu tamu akan diundang secara lisan, ayah dan ibu La Golo sangat terkejut. Tiba-tiba La Golo telah berdiri di depannya. Akhirnya, semua makanan yang telah disiapkan dimakan La Golo dengan lahapnya.
Setelah peristiwa itu, La Golo tidak berubah perangainya. Bahkan, kenakalannya semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, orang tuanya semakin sedih. Mereka merencanakan membawa dia ke hutan yang jauh sekali. Seperti biasanya, ibunya memasak nasi dan lauk-pauk yang banyak sekali dan lezat. Selain itu, ayahnya membawa ponda (labu air) yang sudah kering. Ponda ini bisa menimbulkan suara “Hoooo”, seperti suara orang menjawab panggilan jika ditiup atau tertiup angin.
Setelah berjalan tujuh hari tujuh malam, sampailah mereka di hutan yang dituju. Di situ terdapat pohon duet yang sedang masak. La Golo sudah tidak tahan melihat buah duet yang ranum-ranum itu. Segera ia memanjatnya. Sementara itu, ayahnya meninggalkannya. Pada saat La Golo memanggil, ayahnya menjawab “Hoooo”. Tenanglah hati La Golo.
Setelah puas memakan buah duet, La Golo turun mencari ayahnya. Dicarinya ayahnya ke arah suara “Hooo” tadi. Namun, yang dijumpainya adalah buah ponda. Sekarang, sadarlah La Golo bahwa orang tuanya sengaja membuangnya karena tabiatnya yang buruk. Dia berusaha kembali ke rumahnya, namun tidak bisa.
Pada suatu hari, di tengah hutan itu, La Golo melihat seseorang sedang berjalan seperti dia. Pada mulanya, ia takut. Ia memberanikan diri menyapa orang itu. Mereka saling berkenalan. Nama orang itu adalah Sandari. Tidak lama kemudian, dari kejauhan mereka mendengar suara orang sedang bercakap-cakap. Makin lama makin jelas. Mereka akhirnya berpapasan dan saling berkenalan. Mereka bercerita mengapa sampai di tempat itu. Temyata mereka adalah anak-anak nakal yang tidak dikehendaki orang tuanya. Namanya La Ngepe dan La Bonggo.
Empat orang itu akhirnya menjadi sahabat. Mereka sepakat mengangkat La Golo sebagai ketuanya. Mereka sekarang harus bekerja keras mencari buah-buahan dan umbi-umbian untuk dimakan.

Pada suatu hari, mereka bertemu dengan seekor rusa. La Golo ingin memiliki kepandaian berlari seperti seekor rusa. Setelah berunding dengan teman-temannya, akhimya ia berkata kepada rusa tersebut, “Hai rusa, maukah engkau mengajarkan ilmu larimu kepada kami?”
“Dengan senang hati,” jawab rusa itu. Mereka berempat kini telah memiliki ilmu berlari secepat rusa. Kemudian, mereka bertemu pula dengan seekor beruk yang sangat besar. Beruk itu pun diminta mengajarkan ilmu memanjatnya. Beberapa waktu kemudian, mereka bertemu dengan seekor kerbau liar yang tanduknya sangat kuat. Mereka merasa belum lengkap kalau belum memiliki ilmu ntumbu (tumbuk kepala) yang dimiliki kerbau liar itu. Akhirnya, kerbau itu pun mengajarkan ilmu tumbuk kepalanya.
Pada suatu hari, La Golo punya usul untuk mencari ikan di laut. Teman-temannya yang lain menyetujuinya. Lalu, mereka berjalan menuju teluk kecil yang tenang airnya. Tugas pertama adalah membendung teluk itu.
Tugas ini jatuh pada Sandari karena sandari berarti pagar pembatas air. Setelah air laut itu dibendung, selanjutnya adalah tugas La Bonggo untuk mengeringkan airnya karena bonggo berarti mengeringkan air. Dalam sekejap, air laut itu sudah kering dan tampak ikan-ikan menggelepar. Setelah itu La Ngepe menpunyai tugas menangkap ikan-ikan itu. Ngepe dalam bahasa Bima berarti menangkap ikan. Setelah ikan ditangkap, La Gololah yang mengumpulkan ikan-ikan itu.
Ketika mereka sedang beristirahat sambil memikirkan bagaimana cara memperoleh api untuk membakar ikan-ikan itu, tampaklah asap api di kejauhan. La Golo meminta agar salah satu temannya pergi ke tempat itu untuk membakar ikan. Tugas pertama jatuh pada Sandari. Asap yang mengepul itu ternyata datang dari satu-satunya rumah di situ. Rumah itu milik sepasang raksasa, yaitu Ompu dan Wa’i Ranggasasa (kakek dan nenek Raksasa).
Ketika sampai di situ, Sandari segera meminta izin untuk membakar ikannya. Jika diizinkan, sebagian ikannya akan diberikan sebagai ucapan terima kasih. Dari dalam rumah terdengar jawaban yang menakutkan, “Bukan saja ikan yang akan aku makan, bahkan orangnya Pun akan aku lahap sampai habis. Tunggu…!” Mendengar suara itu, Sandari lari tunggang langgang dan meninggalkan seluruh ikannya. Sandari melaporkan kejadian itu kepada teman-temannya.
Sekarang, yang mendapat giliran pergi adalah La Ngepe dan La Bonggo. “Pergilah kalian berdua cepati Aku sudah lapar sekaiii” perintah La Golo.
Keduanya pergi, masing-masing memikul ikan yang cukup banyak jumlahnya. Namun, mereka mengalami nasib yang sama seperti Sandari. Masih terengah-engah mereka melaporkan kejadiannya kepada La Golo. Akhirnya, La Golo pergi ke rumah Ompu dan Wa’i Ranggasasa, diikuti teman-temannya yang lain.
La Golo pun mendapat jawaban yang sama dari kedua raksasa itu. Namun, La Golo tidak gentar menghadapi Ompu Ranggasasa. Dengan suara yang lantang ia menantang Ompu Ranggasasa.
Ketika Ompu Ranggasasa siap menyerang, La Golo pun sudah bersiap-siap dengan ilmu ntumbu-nya. Begitu raksasa itu menyerang, La Golo pun maju menyerudukkan kepalanya. Terjadilah benturan kepala yang sangat keras. Raksasa itu menjerit kesakitan. Ompu Ranggasasa mati seketika. Demi keamanan, Wa’i Ranggasasa pun dibunuhnya.
Mereka berempat kini menempati rumah raksasa itu. Dengan bebas, mereka membakar ikan di situ. Ketika persediaan makanan telah habis, akhirnya mereka mengembara lagi. Sampailah mereka di sebuah desa yang tidak terlalu ramai. Dari penduduk desa itu mereka mendengar bahwa di istana sedang ada keramaian. Benar juga, orang di istana sedang bersenang-senang mengikuti berbagai permainan.
La Golo pun ikut bertanding. Dengan ilmu lari yang diperoleh dari sang rusa, ia menjadi juara lari. Dengan ilmu memanjat yang diajarkan oleh sang beruk, ia menjadi juara memanjat pohon pinang yang telah dilumuri lemak. Cukup banyak hadiah yang diperolehnya.
Sekarang, tibalah gilirannya mengikuti sayembara ntumbu melawan jagoan istana. Dengan dukungan teman-temannya dan dengan tekad yang bulat, akhimya La Golo maju. Ia duduk bersila dengan penuh hormat di depan sang Raja menyatakan kesediaannya mengikuti ntumbu melawan jagoan istana.
Sebentar lagi perlombaan akan dimulai. Raja sendiri Yang akan memimpin jalannya perlombaan. Kepala peserta lomba diikat dengan pita berwana kuning. Raja mempersilakan kedua pemain maju ke depan berdiri berhadap-hadapan dalam jarak lima depa. Raja memberikan petunjuk tentang jalannya lomba.

Aba-aba sudah dimulai dan kedua pemain telah bersiap untuk berlaga. Bunyi arubana (rebana) yang mengiringi pertarungan itu sudah sejak tadi bergema. Kepala mereka telah siap menyeruduk laksana seekor kerbau liar. Ketika terdengar aba-aba dan bendera kuning telah dijatuhkan, La Golo lari dan meloncat ke arah lawannya bak seekor kerbau liar, dan… “caaaaaaak!” Kepala mereka telah beradu, terdengarlah benturan yang amat keras. Jagoan istana itu tergeletak tak sadarkan diri. La Golo menjadi pemenang pertandingan itu. Para penonton bersorak-sorai dan mengelu-elukan La Golo sang juara.

 http://dongeng.org/la-golo/

Isu






Filsuf Ibnu Rusyd pernah berkata: “Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah sesuatu yang batil dengan agama.”
Yah, isu agama itu mudah dan murah. Ini terbukti banyak digunakan mulai dari peristiwa 11 September, Bom Bali sampai Terorisme, semua berkedok agama. Padahal motifnya ekonomi dan politik.

Senin, 31 Oktober 2016

Harapan menjelang mimpi






Saya suka saat para
Pekerja harus pulang
Anak-anak harus pulang
Burung-burung harus pulang
Matahari harus pulang
Dengan doa semoga mereka lelah
Sehingga tak kuat lagi berteriak
Dan tidurnya nanti nyenyak
Sehingga saya ...
Saya boleh sebentar bersama senyap

Minggu, 30 Oktober 2016

TIPE WAJAH






*TIPE WAJAH* kamu yg mana gaesss?
wajah TERAJANA : TErlihat seperti RAtu padahal durJana.
wajah INTAN : INdah tapi ediTAN
wajah ANGKUH : meransANG untuk selingKUH
wajah Rupawan : Rupanya banyak jerawatan
wajah NINGRAT : beNING tapi berkaRAT
wajah BERMINYAK : belum bersuami tapi udah punya anak
wajah IBLIS : Indah,Bersih tanpa pesil aLIS
wajah KEJAM : ketinggalan jaman
wajah PILKADA : pilihan terakhir daripada gak ada
wajah METAL: MErangsang organ viTAL
Wajah MULUS : minta dielus
wajah RUPAWAN : rupanya simpanan pak wawan
wajah BAGUS : BAngsat sok reliGiUS






Sabtu, 29 Oktober 2016

Ketika "rasa" mantap,




ikhlas seperti gula


Dalam minuman 'KOPI' ada 3 unsur,
Kopi
Gula
Rasa

Kopi adalah Orang tua
Gula adalah Guru
Rasa adalah siswa
Jika kopi terlalu pahit
Siapa yang salah?
Gula lah yang disalahkan karena terlalu sedikit,
hingga "rasa" kopi menjadi pahit!!!
Jika kopi terlalu manis
Siapa yg disalahkan?
Gula pula yang disalahkan karena terlalu banyak,
hingga "Rasa" kopi menjadi manis!!!
Jika takaran kopi dan gula seimbang, sehingga rasa yang tercecap menjadi nikmat,
Siapa yg di puji...???
Tentu semua akan berkata:
Kopinya mantaaap.................!!!!!
Kemana gula???
Dimana gula???
yang mempunyai andil membuat "rasa" kopi menjadi mantaaap!!!
Itulah guru yang ketika "rasa" terlalu manis maka dia akan dipersalahkan!!!
Itulah guru yang ketika "rasa" terlalu pahit maka dia pula yang akan dipojokkan!!!
Tetapi,
Ketika "rasa" mantap,
Ketika siswa berprestasi,
Maka orang tua lah yang akan menepuk dadanya:
"Anak siapa dulu"




Kamis, 27 Oktober 2016

senam otak






utk mencegah pikun perlu senam otak sejenak. Dg senam otak salah satu bukti otak kita luar biasa, silahkan dibaca pësan bërikut:
P354N 1N1 11131118UK71K4N. 841-1W4 074K K174 8154 1113L4KUK4N 1-14L Y6 LU412 81454 1113N4KJU8K4N.
P4D4 4W4LNY4 T312454 5UK412, 74P1 5373L41-1 54111P41 D1841215 1N1 P1K1124N K174 8154 111311184C4NY4 53C4124 07O1114715 74NP4
8312P1K112 841-1W4 K174 111311184C4 4N6K4. 84N664L41-1 ... K4123N4 1-14NY4 0124N6-0124N6 731273NTU Y4N6 8154 111311184C4 P35AN 1N1.
PL3453 F012W412D 1F U C4N. T1-14NK2.

Bagi yang bisa membaca ini berarti otak kanan dan kirinya berfungsi dengan baik. Selamat mencoba.